Monday, Apr 22 2019,

"BRINGING THE ECONOMY, PROSPERITY, MODERNITY, AND SUSTAINABILITY FOR THE WHOLE WEST JAVA PEOPLE"
  • Bodebek Karpur
  • Bandung Raya
  • Cirebon Raya
  • Palabuhanratu
  • Pangandaran
  • Rancabuaya
  • METROPOLITAN BODEBEKKARPUR

     

    Metropolitan Bodebekkarpur merupakan salah satu metropolitan yang berada di Provinsi Jawa Barat. Nama Bodebek Karpur sendiri sebetulnya merupakan singkatan dari nama-nama kabupaten/ kota yang dilingkupinya, yakni Bogor Depok Bekasi Karawang PurwakartaMeskipun demikian, pada dasarnya penentuan wilayah Metropolitan Bodebek Karpur tidak didasarkan pada batas wilayah administratif. Alasannya sebab dalam satu wilayah administratif sangat memungkinkan adanya suatu keberagaman. Dalam satu kabupaten/Kota saja misalnya,  terkadang beberapa area memiliki ciri perkotaan sedangkan beberapa area lainnya memiliki ciri perdesaan. Didasari oleh hal tersebut, maka West Java Province Metopolitan Development Manajemen (WJP MDM) menentukan batas Metropolitan Bodebek Karpur tidak dengan menggunakan wilayah administratif, tetapi dengan mempertimbangkan aglomerasi yang terjadi. Dalam hal ini, digunakan tiga kriteria khusus dalam penentuannya, yakni:

    1. Jumlah Penduduk
    2. Kegiatan Ekonomi
    3. Luas Lahan Terbangun

    Tahun 2010 luas wilayah metropolitan Bodebek Karpur mencapai sekitar 300.845 Ha. Luas tersebut mencakup 82 kecamatan yang tersebar di tujuh kabupaten/ kota. Jika tidak ada capur tangan dalam pengelolaanya, dengan kata lain pertumbuhan metropolitan dibiarkan alami berjalan dengan sendirinya, maka diperkirakan hingga tahun 2025, luas Kawasan Metropolitan Bodebek Karpur akan berkembang menjadi sekitar 503.634 Ha.

  • KEUNGGULAN

    Metropolitan Bodebek Karpur merupakan kawasan yang potensial dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya. Beberapa keunggulan yang dimiliki Metropolitan Bodebek Karpur dapat dikelompokkan kedalam tiga jenis keunggulan, yaitu meliputi keunggulan absolut (Absolute Advantage), keunggulan komparatif  (Comparative Advantage) serta Keunggulan kompetitif (Competitive Advantage).

    1. Keuggulan Absolut

    Absolute advantage atau keunggulan absolut dalam hal ini didefinisikan sebagai keunggulan yang dimiliki Metropolitan Bodebek Karpur dari keberadaan sumber daya alam dan sejarah yang dimilikinya dibandingkan dengan yang dimiliki wilayah lain.

    No Kabupaten/Kota Keunggulan Absolut
    1 Kabupaten Bogor

    Udara yang sejuk

    Pemandangan alam :

    Situ Gunung Putri

    Situ Kemuning

    Situ Cikaret, curug

      Kota Bogor

    Udara yang sejuk

    Kota hujan

    Kebun raya Bogor

    Situ Gede

    Istana Bogor

    Batu tulis Bogor

    Sejarah

      Kota Depok

    Lakasi strategis Berbatasan dengan ibu kota pemerintahan

      Kabupaten Bekasi

    Pantai Muara Gembong

    Pantai Muara Beting

    Pantai Muara Bendera

      Kota Bekasi

    Lokasi strategis, dekat dengan ibu kota pemerintahan

      Kabupaten Karawang

    Lahan yang subur

    Sejarah

    Peristiwa Rengasdengklok

    Inspirasi sastrawan

    Seni dan budaya: jaipong

      Kabupaten Purwakarta

    Strategis, berada pada titik-temu tiga jalur utama lalu-lintas, yaitu jalur Purwakarta-Jakarta, Purwakarta-Bandung dan Purwakarta-Cirebon yang merupakan jalur utama ke wilayah Jawa Tengah

    Waduk Jati Luhur

    Danau Cirata, Situ Wanayasa serta Situ Buleud

    Lokasi wisata ziarah

    Seni budaya: buncis, domyak

    Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, Data: SP 2010, GIS Bappeda WJP 2010.

    1. Keunggulan Komparatif

    Comparative advantage atau keunggulan komparatif Metropolitan Bodebek Karpur yaitu keunggulan yang dimiliki wilayah ini karena memiliki sumber daya produksi yang lebih banyak/ unggul dibandingkan dengan yang dimiliki wilayah lain.

    No Kabupaten/Kota Keunggulan Komparatif
    1 Kabupaten Bogor

    Potensi panas bumi awi bengkok

    Infrastruktur perdagangan: Shopping mall

      Kota Bogor

    Sumber daya manusia

    Infrastruktur perdagangan

      Kota Depok

    Infrastruktur perdagangan:

    Shopping mall

    Pasar Tradisional

      Kabupaten Bekasi

    Lahan yang luas

    Memiliki 7 klaster industri

    Potensi gas alam

      Kota Bekasi

    Sumber daya manusia

    Infrastruktur Perdagangan

      Kabupaten Karawang

    Memiliki lahan yang luas yang berperan sebagai lumbung padi

    Potensi gas alam

    Potensi cadangan minyak

    Memiliki sumber  daya air

    Infrastruktur industri

    Stadion Singa Perbangsa

      Kabupaten Purwakarta

    Sumber daya air dan energi yang bersumber dari waduk jati luhur

    Sumber daya bahan galian mineral logam berupa emas di Kecamatan Sukatani dan Kecamatan Campaka

    Sumber daya bahan galian mineral logam berupa seng di Kecamatan Sukatani

    Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, Data: SP 2010, GIS Bappeda WJP 2010.

    1. Keunggulan Kompetitif

    Competitive advantage atau keunggulan kompetitif yaitu keunggulan yang dimiliki suatu wilayah karena sudah berpengalaman atau karena penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menciptakan keunggulan dalam persaingan antar wilayah.

    No Kabupaten/Kota Keunggulan Kompetitif
    1 Kabupaten Bogor

    Taman Buah Mekarsari

    Taman Safari Indonesia

      Kota Bogor

    Memiliki perguruan tinggi berbasis pertanian yang berkelas dunia

    Memiliki Lembaga Penelitian Ilmiah: CIFOR dan Balai Penelitian Karet

    Museum-museum yang banyak dikunjungi sepanjang tahun seperti: Museum Zoologi, Museum Etnobotani, Museum Tanah, Museum Perjuangan

    Variasi produk unggulan kerajinan seperti bordir, senjata kujang, batik dan handicraft.

    Sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif

      Kota Depok

    Memiliki perguruan tinggi berbasis science & technology yang berkelas dunia

    Mesjid Kubah Mas

      Kabupaten Bekasi

    Memiliki Pusat R & D

    Memiliki tenaga ahli di bidang industri

    Kilang elpiji (Liquified petroleum gas, LPG)

      Kota Bekasi

    Tenaga kerja yang terampil

      Kabupaten Karawang

    Memiliki balai besar penelitian

      Kabupaten Purwakarta

    Sentra Industri Keramik Plered

    Tenaga kerja kreatif

    Tenaga kerja pengolahan makanan: sate maranggi, simping

     

  • KONSEP PENGEMBANGAN

    Meskipun Metropolitan Bodebek Karpur memiliki beragam keunggulan, namun kawasan Bodebek-Karpur saat ini cenderung lebih berperan sebagai 2nd tier metropolitan dengan 1st tier metropolitannya yaitu DKI Jakarta. Dengan kondisi tersebut, kedudukan Bodebek Karpur saat ini cenderung lebih bersifat sebagaihinterland bagi DKI Jakarta. Sebagian besar kantor kementrian, departemen, lembaga nasional serta kantor-kantor pusat perusahaan berlokasi di DKI Jakarta. Implikasinya, berbagai nilai tambah lebih terserap ke DKI Jakarta.

    Meskipun Bodebek Karpur merupakan salah satu kawasan dengan kegiatan industrinya yang tinggi, namun sebagian besar bersifat foot loose, tidak memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pertumbuhan Bodebek Karpur itu sendiri. Nilai tambah terbesar justru berada di 1st tier metropolitan. Dengan mempertimbangkan berbagai keunggulan yang ada serta didasari oleh kondisi eksisting dimana Kawasan Bodebek Karpur telah tumbuh sebagai metropolitan yang potensial, maka Metropolitan Bodebek Karpur akan dikembangkan sebagai metropolitan mandiri dengan sektor unggulan industri manufaktur, perdagangan dan jasa.

    1. Metropolitan Mandiri

    Untuk mengembangkan Metropolitan Bodebek Karpur sebagai Metropolitan Mandiri, maka akan digunakan Konsep Twin Metropolitan Bodebek Karpur-DKI Jakarta. Melalui konsep ini, Metropolitan Bodebek Karpur akan dikembangkan sebagai 1st Tier METROPOLITAN berdampingan dengan DKI Jakarta yang juga 1st Tier Metropolitan. Untuk mendukung arah pengembangan tersebut, maka di Bodebek Karpur  akan dikembangkan cluster-cluster untuk kantor pusat perusahaan, perdagangan, perbankan, jasa pelayanan, asuransi, hukum, penelitian dan pemerintahan.

    1. Metropolitan Bersektor Unggulan Industri Manufaktur, Perdagangan dan Jasa.

    Sedangkan untuk mengakomodir serta untuk lebih mendorong potensi wilayah ini, maka Metropolitan Bodebek Karpur juga akan dikembangkan sebagai metropolitan yang berbasiskan industri manufaktur, perdagangan dan jasa. Saat ini, beberapa kawasan di Metropolitan Bodebek Karpur tumbuh sebagai kawasan industri manufaktur. Beberapa kawasan industri di metropolitan ini bahkan telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Adanya dukungan faktor produksi berupa ketersediaan lahan semakin memperkuat posisi arahan pengembangan Metropolitan Bodebek Karpur sebagai metropolitan dengan salah satu sektor unggulan industri manufaktur.

    Seperti halnya pengembangan sektor unggulan industri manufaktur, arahan pengembangan sektor unggulan perdagangan dan jasa di Metropolitan Bodebek Karpur dilakukan atas dasar pertimbangan kondisi eksisting serta pertimbangan perkembangan kawasan ini kedepan. Saat ini kegiatan perdagangan dan jasa di kawasan ini telah cukup berkembang.

    Pengembangan Metropolitan Bodebek Karpur melalui konsep Twin Metropolitan Bodebek Karpur – DKI Jakarta akan memberikan win-win solution bagi Bodebek Karpur dan DKI Jakarta. Bagi Jawa Barat konsep tersebut dinilai potensial dan dapat menjadi salah satu penghela ekonomi, kesejahteraan, modernisasi dan keberlanjutan bagi Provinsi Jawa Barat. Sedangkan bagi DKI Jakarta, konsep ini dapat mengurangi beban perkotaan yang selama ini ditanggung DKI Jakarta.

  • METROPOLITAN BANDUNG RAYA

    Perkembangan Metropolitan Bandung Raya dimulai dari perkembangan Kota Bandung sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat. Selanjutnya perkembangan wilayah-wilayah di sekitar Kota Bandung terjadi seiring dengan meluasnya ciri perkotaan dari Kota Bandung ke wilayah sekitarnya. Pada tahun 2010, terdapat 56 kecamatan yang telah mempunyai ciri perkotaan di Kota Bandung, Kota Cimahi, sebagian Kabupaten Bandung, sebagian Kabupaten Bandung Barat, dan sebagian Kabupaten Sumedang. 56 kecamatan tersebut termasuk ke dalam delineasi Metropolitan Bandung Raya dengan jumlah penduduk sebesar 5.813.269 jiwa dan luas wilayah sebesar 106.015 Ha. Sementara itu, pada tahun 2010 luas kawasan terbangun mencapai 26.142 Ha atau sekitar 25 persen dari luas wilayah keseluruhan.

    Wilayah Metropolitan Bandung Raya berdasarkan proyeksi tahun 2015 mencakup 61 kecamatan di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang dengan jumlah penduduk sebesar 9,9 juta jiwa. Pada tahun 2020, Wilayah Metropolitan Bandung Raya mencakup 68 kecamatan di 5 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk sebesar 11,4 juta jiwa. Sementara itu, pada tahun 2025, Wilayah Metropolitan Bandung Raya mencakup 71 kecamatan di 5 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk sebesar 12,8 juta jiwa.

    Metropolitan Bandung Raya memiliki potensi infrastruktur transportasi yang cukup lengkap baik yaitu transportasi darat dan transportasi udara. Metropolitan Bandung Raya dilalui oleh jalan arteri primer, rel kereta api, dan beberapa ruas jalan tol. Selain itu, terdapat pula terminal tipe A yaitu Terminal Cicaheum dan Terminal Leuwipanjang di Kota Bandung. Untuk transportasi udara, terdapat Bandara Husein Sastranegara.

  • Perkembangan Metropolitan Bandung Raya tidak dapat dilepaskan dari keunggulan-keunggulan yang terdapat di Metropolitan Bandung Raya. Keunggulan tersebut diklasifikasikan menjadi absolut advantage, comparative advantage, dan competitive advantage, baik berdasarkan masing-masing kabupaten kota maupun secara keseluruhan wilayah metropolitan.

    1. Absolut Advantage

    Absolut advantage atau keunggulan absolut adalah keuntungan yang diperoleh suatu wilayah metropolitan dari keberadaan sumber daya alam dan sejarah yang dimilikinya namun tidak dimiliki wilayah lain. Secara keseluruhan keunggulan absolut di Metropolitan Bandung Raya ditampilkan dalam tabel dibawah ini.

    Keunggulan Absolut Metropolitan Bandung Raya

    Kabupaten/Kota Absolut Advantage
    Kota Bandung

    Ibukota Provinsi Jawa Barat

    Dikelilingi pegunungan

    Peristiwa Bersejarah:

    Konferensi Asia Afrika: Dasasila Bandung

    Bandung Lautan Api

    Museum Geologi, Sribaduga, KAA, Mandalawangsit

    Kebun Binatang

    Taman Hutan Raya Juanda

    Stasiun Bandung

    Infrastruktur industri besar:

    PT PINDAD

    PT DI

    Kota Cimahi

    Kawasan militer bersejarah

    Kampung Adat Cireundeu

    Kabupaten Bandung

    Wisata alam dan pegunungan:

    Kawah Putih

    Kabupaten Bandung Barat

    Wisata alam dan pegunungan

    Karst Padalarang

    Kabupaten Sumedang

    Wisata alam dan pegunungan

    Metropolitan Bandung Raya

    Secara geografis berbentuk cekungan sehingga dikelilingi pegunungan

    Terdapat berbagai objek wisata alam

    Mempunyai peninggalan sejarah berupa bangunan bersejarah dan warisan budaya

    Sumber: Analisis WJPMDM, 2011.

    1. Comparative Advantage

    Comparative advantage atau keunggulan komparatif adalah keuntungan yang dimiliki suatu wilayah metropolitan karena memiliki sumber daya produksi yang lebih unggul dibandingkan dengan wilayah lain. Keunggulan komparatif masing-masing kota dan kabupaten di Metropolitan Bandung Raya serta keunggulan Metropolitan Bandung Raya secara keseluruhan ditampilkan  dalam tabel di bawah ini.

    Keunggulan Komparatif Metropolitan Bandung Raya

    Kabupaten/Kota Absolut Advantage
    Kota Bandung

    Infrastruktur perdagangan:

    Shopping mall

    Factory outlet

    Distro

    Kawasan pertokoan

    6 Perguruan Tinggi Negeri:

    ITB, UNPAD, UPI, STSI, Polban, Polman

    Lebih dari 100 Perguruan tinggi swasta:

    UNPAR, IT Telkom, UNISBA, UNPAS, ITENAS, NHI, dll

    Tenaga kerja industri besar

    Tenaga kerja industri makanan

    Bandara Husein Sastranegara

    Kota Cimahi

    Infrastruktur perdagangan

    Infrastruktur industri tekstil

    Tenaga kerja industri tekstil

    Kabupaten Bandung

    Infrastruktur industri tekstil

    Tenaga kerja industri tekstil

    Stadion Jalak Harupat

    Kabupaten Bandung Barat

    Infrastruktur perdagangan

    Fasilitas rekreasi

    Sumber daya air

    Waduk Saguling

    Bio etanol singkong

    Infrastruktur industri tekstil

    Tenaga kerja industri tekstil dan makanan

    Kabupaten Sumedang

    Tenaga kerja industri makanan

    Metropolitan Bandung Raya

    Aksesibilitas

    Jalur transportasi darat melalui Jalan Tol Cipularang, Nagreg, Jalan Raya Lembang, dll.

    Simpul transportasi

    Terminal

    Bandara Husein Sastranegara

    Stasiun Bandung

    Infrastruktur perdagangan

    Infrastruktur industri

    Tenaga kerja industri (tekstil dan makanan)

    Sumber: Analisis WJPMDM, 2011.

    1. Competitive Advantage

    Competitive advantage adalah keuntungan yang diperoleh suatu wilayah metropolitan melalui penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menciptakan keunggulan dalam persaingan antar wilayah. Keunggulan kompetitif masing-masing kota dan kabupaten di Metropolitan Bandung Raya serta keunggulan Metropolitan Bandung Raya secara keseluruhan ditampilkan  dalam tabel di bawah ini.

    Keunggulan Kompetitif Metropolitan Bandung Raya

    Kabupaten/Kota Competitive Advantage
    Kota Bandung

    ITB sebagai perguruan tinggi peringkat 500 besar dunia (QS WCUR)

    Komunitas kreatif

    Bandung Creative City Forum

    Pusat riset dan pengembangan: BATAN, LIPI, Balai Keramik, dll

    Sumber daya manusia kreatif dlm bidang musik, desain, perfilman, dll

    Tenaga kerja pengolahan makanan:

    Batagor, brownies

    Galeri seni dan gedung kesenian

    Kota Cimahi

    Komunitas kreatif:

    Baros Cyber City

    Cimahi Creative Association

    Gedung Baros Information Technology Creative

    Kabupaten Bandung

    Industri tekstil

    Kabupaten Bandung Barat

    Puspa IPTEK

    Kota Baru Parahyangan  

    Kabupaten Sumedang

    Perguruan tinggi

    UNPAD, IPDN  

    Metropolitan Bandung Raya

    Komunitas yang kreatif

    Sumber daya manusia yang inovatif

    Perguruan tinggi berkelas dunia

    Fasilitas riset dan pengembangan

     

  • KONSEP PENGEMBANGAN

    Dengan merespon berbagai isu dan permasalahan serta mengoptimalkan keunggulan-keunggulan di Metropolitan Bandung Raya, maka disusunlah konsep pengembangan Metropolitan Bandung Raya sebagai  penghela percepatan pembangunan di Jawa Barat. Berdasarkan keunggulan yang paling potensial, konsep pengembangan yang diusung yaitu “Metropolitan Bandung Raya sebagai metropolitan modern dengan sektor unggulan wisata perkotaan, industri kreatif, serta pengembangan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni)”.

    Sebagai metropolitan modern, di Metropolitan Bandung Raya akan dikembangkan berbagai infrastruktur modern yang memadai dan dapat mengakomodasi kegiatan perekonomian serta aktivitas penduduk antara lain:

    Perumahan vertikal skala besar

    Dengan aglomerasi kegiatan yang begitu tinggi, infrastruktur perumahan merupakan hal yang penting untuk dikembangkan lebih lanjut. Akan tetapi, mengingat keterbatasan lahan yang memungkinkan untuk pengembangan perumahan serta semakin berkurangnya ruang terbuka hijau perkotaan, maka konsep pengembangan perumahan yang diusulkan oleh WJP-MDM adalah perumahan vertikal. Perumahan vertikal yang dimaksud merupakan perumahan vertikal skala besar yang terdiri atas minimum 10 (sepuluh) tower, dengan masing-masing tower memiliki minimum 10 (sepuluh) lantai. Pendanaan penyediaan perumahan skala besar dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan pihak swasta.

    Sistem angkutan umum massal yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan untuk mengakomodasi pergerakan penduduk. Untuk tiap simpul transportasi di masing-masing pusat kegiatan akan dikembangkan lahan seluas 5 Ha yang berfungsi untuk berbagai kegiatan, seperti untuk relokasi sektor informal, kegiatan festival, dan sistem TOD.

    Peningkatan kualitas pelayanan air bersih, penanganan persampahan, drainase, telekomunikasi, dll

    Pelayanan kegiatan sesuai standar metropolitan, meliputi:

    Fasilitas kesehatan

    Fasilitas pendidikan

    Fasilitas perkantoran

    Fasilitas peribadatan

    Fasilitas perdagangan

    Wisata dan rekreasi: gedung kesenian, museum, kegiatan malam

    Sosial: perawatan masyarakat lanjut usia, penitipan anak

    Sementara itu, sektor unggulan yang akan dikembangkan antara lain sektor sektor perdagangan dan jasa untuk pengembangan wisata perkotaan, industri kreatif, serta pendidikan tinggi sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Pengembangan sektor-sektor tersebut merupakan upaya dalam mewujudkan Metropolitan Bandung Raya sebagai penghela percepatan pembangunan di Jawa Barat.

    Sektor unggulan wisata perkotaan yang diunggulkan antara lain yaitu perpaduan wisata belanja, kuliner, budaya, pendidikan. Pengembangan wisata juga termasuk wisata alam di sekitar Metropolitan Bandung Raya. Hal ini dimaksudkan agar Metropolitan Bandung Raya dapat menjadi show window untuk memasarkan produk Jawa Barat ke masyarakat luas dan wisatawan. Selain itu, Metropolitan Bandung Raya juga berperan sebagai zona destinasi wisatawan yang kemudian menyebar ke objek wisata di sekitar Bandung Raya melalui akses transportasi. Untuk dapat mengembangkan wisata perkotaan dengan optimal, infrastruktur yang akan dikembangkan antara lain:

     

  • METROPOLITAN CIREBON RAYA

     

    Metropolitan Cirebon Raya telah mencirikan kota metropolitan. Karakteristik metropolitan dapat dilihat dari berbagai aspek seperti adanya aglomerasi jumlah penduduk, aktivitas ekonomi dan sosial, serta presentase lahan terbangun. Selain itu, tingginya mobilitas penduduk, interaksi yang tinggi dengan wilayah sekitarnya, serta tersedianya infrastruktur yang memadai secara regional juga dapat menjadi salah satu ciri kota metropolitan. Berdasarkan data-data empiris, pada tahun 2010, Metropolitan Cirebon Raya memiliki jumlah penduduk sebesar 1,58 juta jiwa di 29 kecamatan yang terdapat di tiga Kabupaten/Kota (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Kuningan) dengan luas lahanterbangun sekitar 25%.

    Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi masyarakat menyebabkan peningkatan akan kebutuhan infrastruktur. Infrastruktur transportasi, permukiman dan perumahan, serta infrastruktur pendukung lainnya menjadi bagian penting yang tidak boleh dilupakan. Beberapa infrastruktur strategis seperti akses jalan tol, jalur kereta api, serta pelabuhan dan bandara akan menghubungkan Metropolitan Cirebon Raya dengan kota-kota lain sehingga membuka akses menuju dan keluar wilayah metropolitan yang dapat memberikan keuntungan bagi Metropolitan Cirebon Raya.

  • KEUNGGULAN

    Metropolitan Cirebon Raya sebagai salah satu metropolitan di Provinsi Jawa Barat memiliki keunggulan yang berbeda dengan Metropolitan Bodebek Karpur dan Metropolitan Bandung Raya. Keunggulan yang dimiliki tersebut juga berbeda antar Kota dan Kabupaten yang termasuk ke dalam Metropolitan Cirebon Raya. Metropolitan Cirebon Raya terdiri dari Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. Meskipun demikian, keunggulan setiap Kota/Kabupaten tersebut tentunya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan Metropolitan Cirebon Raya secara keseluruhan.

    Dalam mengindentifikasi keunggulan-keunggulan yang dimiliki masing-masing daerah, dapat dilihat berdasarkan keunggulan absolut (absolute advantage), keunggulan komparatif (comparative advantage), dan keunggulan kompetitif (competitive advantage).

    1. Keunggulan Absolut

    Absolute advantage adalah keunggulan yang dimiliki suatu wilayah dari keberadaan sumber daya alam dan sejarah yang dimilikinya dibandingkan dengan yang dimiliki wilayah lain. Keunggulan absolute ini biasanya lebih bersifat given dan merupakan potensi yang sudah dimiliki oleh wilayah tersebut dari awal terbentuknya wilayah tersebut.

    Kabupaten/Kota Absolut Advantage
    Kota Cirebon

    Daerah iklim tropis dengan rata-rata hari hujan 155 hari/tahun

    Pesisir pantai

    Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kaprabonan, Keraton Kacirebonan

    Taman Air Sunyaragi dan Taman Ade Irma Suryani

    Makam Sunan Gunung Jati

    Budaya Syawalan Gunung Jati, Topeng Cirebon, Tarling, Sintren, Jaran Lumping, Debus, Wayang Golek Cepak, Wayang Kulit Cirebon, Genjring Mundur, dll

    Kabupaten Cirebon

    Dataran rendah dan pegunungan

    Situs Batu Tulis Huludayeuh, Situs Pasanggrahan Balong Biru, dll

    Setu Patok dan Setu Sedong

    Perkampungan batik Trusmi

    Wanawisata Ciwaringin, Plangon, Taman Nasional Gunung Ciremai, Belawa, Banyu Panas Palimanan, dll

    Budaya Nadran (pesta laut), Topeng Cirebon, Tarling, Sintren, Sandiwara Cirebonan, Kesenian Gembyung, Tayuban

    Kabupaten Kuningan

    Bentang alam yang cukup indah, udara yang sejuk

    Permukaan tanah relatif datar

    Gunung Ciremai dan Taman Nasional Gunung Ciremai

     Telaga Remis

    Bumi Perkemahan

    Taman Wisata Alam Linggarjati

    Gedung Perundingan Linggarjati

    Budaya Wayang Golek, Kuda Lumping, Tari Buyung, dll

    Situ Talaga Remis, Situ Cipariuk, Situ Cicerem, Situ Cipari, Waduk Darma, dll

    Kabupaten Majalengka

    Permukaan tanah relatif datar

    Topografi berupa dataran rendah dengan hari hujan 11 hari/bulan

    Bentang alam yang indah

    Sungai Cimanuk dan Sungai Cilutung dengan debit air besar

    Sindangwangi Mina Wisata

    Eko Wisata Batu Luhur

    Kabupaten Indramayu

    Sebagian besar merupakan dataran rendah dan pantai

    Pulau biawak dan situ Pulau Biawak

    Pantai Tirtamaya dan Pantai Eretan

    Pulau Gosong dan Pulau Candikian

    Waduk Bojongsari dan Situ Bolang

    Kesenian Ngarot, Nadran, Sintren atau Lais, Tari Topeng Dermayon, Kesenian Tarling, Genjring Akrobat

    Situs Makam Raden Aria Wiralodra, Makam Selawe, Makam Buyut Tambi, Tugu Kijang, Tugu Mangga

    Metropolitan Cirebon Raya

    Daerah iklim tropis berupa dataran rendah, pegunungan dan pantai

    Budaya Nadran (pesta laut), Syawalan Gunung Jati, Topeng Cirebon, Tarling, Sintren, Sandiwara Cirebonan, Debus, Kesenian Gembyung, Tayuban, Wayang Golek, Kuda Lumping, Ngarot, Tari Topeng Dermayon, Genjring Akrobat, dll

    Keraton, Situs sejarah, Bumi Perkemahan, Taman Nasional Gunung Ciremai, Gedung Perjanjian, dll

    Perkampungan batik Trusmi

    Sungai, situ, dan waduk

     

    1. Keunggulan Komparatif

    Comparative advantage adalah keunggulan yang dimiliki suatu wilayah karena memiliki sumber daya produksi yang lebih banyak/ unggul dibandingkan dengan yang dimiliki wilayah lain. Sumber daya produksi yang dimaksud dapat meliputi faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, lahan, pasar uang, infrastruktur dan teknologi.

    Kabupaten/Kota Absolut Advantage
    Kota Cirebon

    Letak geografis strategis berada diJalur Pantura

    Hasil laut melimpah

    Terasi Cirebon

    Pasar Kanoman

    Pelabuhan Perikanan Kejawanan

    Bandara Cakrabuwana

    Stasiun Kejaksan

    Grage Mall, CBS Mall, Cirebon Mall

    Tenaga kerja yang terampil dalam industri batik dan rotan

    Tenaga kerja industri pengolahan makanan

    Kabupaten Cirebon

    Bahan galian C, yaitu: pasir, sirtu, batu alam, batu gamping, dan tanah liat/lempung

    Tenaga kerja yang terampil dalam industri batik dan rotan

    Tenaga kerja industri pengolahan makanan

    Hasil laut melimpah

    Kabupaten Kuningan

    Sumber daya air yang cukup melimpah

    Industri makanan dan minuman dalam jumlah yang cukup banyak

    Sumber daya energy berupa panas bumi

    Kabupaten Majalengka

    Sumber daya logam, batu, batuan beku, emas, pasir, dan lempung

    Hasil hutan produksi berupa kayu

    Tenaga kerja industri kimia, industri pengolahan galian

    Ketersediaan sumber mata air yang melimpah

    Lahan luas untuk pengembangan investasi

    Kabupaten Indramayu

    Posisi strategis dilalui Jalan Negara

    Kilang minyak Balongan

    Batik Indramayu

    Lahan mata air

    Pelabuhan ikan

    Perikanan laut dan tambak

    Sumberdaya mineral yang melimpah berupa gas alam, galian C, BBM, dll

    Industri pengolahan yang banyak

    Tenaga kerja industri kerajinan

    Metropolitan Cirebon Raya

    Letak geografis strategis berada di Jalur Pantura

    Bandara Cakrabuwana, Stasiun Kejaksan, Pelabuhan Perikanan Kejawanan

    Ketersediaan tenaga kerja yang terampil dalam memproduksi batik dan rotan

    SDA melimpah berupa hasil laut, kayu, bahan galian, energi panas bumi, minyak dan gas

     

    1. Keunggulan Kompetitif

    Competitive advantage merupakan keunggulan yang dimiliki suatu wilayah karena sudah berpengalaman atau karena penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menciptakan keunggulan dalam persaingan antar wilayah. Keunggulan kompetitif ini dapat menjadi salah satu komponen yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

    Kabupaten/Kota Absolut Advantage
    Kota Cirebon

    Pelabuhan Cirebon

    Warisan Budaya Keraton

    Kemampuan sumber daya manusia yang tinggi (IPM 74,23 persen pada tahun 2008)

    Kabupaten Cirebon

    Pengrajin batik berpengalaman selama bertahuntahun

    Pengrajin rotan berkelas dunia

    Kabupaten Kuningan

    Pusat kegiatan industri pariwisata

    Kabupaten Majalengka

    Jabar Education Park

    Kabupaten Indramayu

    Laju investasi positif

    Laju pertumbuhan ekonomi tinggi

    Metropolitan Cirebon Raya

    Pelabuhan Cirebon untuk pengangkutan batu bara

    Warisan budaya Keraton

    Pengrajin batik berpengalaman selama bertahuntahun

    Pengrajin rotan berkelas dunia

     

  • KONSEP PENGEMBANGAN

    Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya diharapkan dapat sejalan dengan konsep pengembangan metropolitan dan growth center sebagai penghela percepatan pembangunan di Jawa Barat. Untuk itu diperlukan konsep pengembangan masing-masing metropolitan di Jawa Barat dengan mengoptimalkan pemanfaatan komponen atau faktor-faktor produksi yang terdapat di wilayah metropolitan  masing-masing. berdasarkan hal tersebut, konsep pengembangan Metropolitan Cirebon Raya adalah “Metropolitan Budaya dan Sejarah dengan Sektor Unggulan Wisata dan Industri Kerajinan”.

    1. Metropolitan Budaya dan Sejarah

    Budaya dan sejarah menjadi hal yang sangat melekat dengan Metropolitan Cirebon Raya. Berdasarkan keunggulan yang dimiliki Metropolitan Cirebon Raya, terdapat berbagai macam budaya yang berkembang di metropolitan tersebut. Budaya yang berkembang telah menjadi ciri khas Metropolitan Cirebon Raya sebagai Metropolitan Budaya dan Sejarah.

    Untuk dapat mengembangkan konsep Metropolitan Cirebon Raya sebagai penghela percepatan pembangunan di Jawa Barat, diperlukan strategi pengembangan yang sesuai dengan keunggulan dan permasalahan yang dimiliki wilayah tersebut. Dalam mengembangkan konsep pengembangan Metropolitan Cirebon Raya sebagai metropolitan budaya dan sejarah, pelestarian warisan budaya dan kawasan cagar budaya sebagai daya tarik wisata baik skala lokal, regional, nasional dan internasional diperlukan. Hal tersebut dilakukan mengingat keberadaan warisan budaya tersebut perlu dijaga sebagai aset wilayah yang akan menghela pembangunan wilayah tersebut.

    Selain pelestarian budaya, prioritas pengembangan budaya dan kesenian dengan penyediaan fasilitas memadai seperti gedung kesenian sebagai tempat pameran dan festival, padepokan seni dan sanggar seni budaya, pusat kebudayaan serta museum dan galeri juga diperlukan. Penyediaan fasilitas-fasilitas tersebut harus pula didukung oleh penyediaan infrastruktur dasar untuk pengembangan metropolitan secara menyeluruh seperti penyediaan perumahan vertikal skala besar di Kota Cirebon, penyediaan fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, peparkiran dan fasilitas dasar lainnya sesuai dengan hirarki skala pelayanan yang melayani pusat-pusat kegiatan masyarakat serta penyediaan infrastruktur permukiman, energi, transportasi, telekomunikasi, dan sumber daya air.

    1. Pengembangan Wisata

    Wisata menjadi salah satu sektor yang dapat mendorong pencapaian Metropolitan Cirebon Raya sebagai metropolitan budaya dan sejarah. Prioritas pengembangan produk wisata dan strategi pemasaran juga perlu dilakukan sebagai salah satu upaya preservasi warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi yang juga dapat dijadikan potensi wisata dan penggerak pembangunan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan potensi wisata tersebut juga harus disertai dengan peningkatan sarana dan prasarana penunjang seperti aksesibilitas jalan yang terintegrasi antar kawasan wisata, optimalisasi sarana dan prasarana transportasi, penyediaan hotel dan restoran di sekitar tempat wisata, penyediaan pusat informasi wisata dan rekreasi serta fasilitas perdagangan sebagai bagian dari pengembangan wisata.

    Wisata alam, wisata budaya dan wisata budaya merupakan bagian dari wisata yang ada di Metropolitan Cirebon Raya. Keragaman jenis wisata tersebut telah mencirikan budaya dan sejarah di Metropolitan Cirebon Raya. Pengembangan terhadap sektor wisata tersebut akan mendorong perekonomian Metropolitan Cirebon Raya sehingga sektor wisata tersebut perlu dikembangkan secara optimal. Pengoptimalan sektor wisata di Metropolitan Cirebon Raya dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari pemeliharaan, peningkatan, serta pengawasan terhadap objek-objek wisata yang telah tersedia.

    1. Pengembangan Industri Kerajinan

    Berdasarkan potensi yang dimiliki Metropolitan Cirebon Raya, sektor industri memiliki peranan yang cukup penting dalam mengembangkan metropolitan tersebut. Pengembangan industri kerajinan berupa kerajinan batik dan rotan yang menjadi ciri khas Metropolitan Cirebon Raya akan menjadi salah satu ikon budaya di metropolitan tersebut. Dalam mengembangkan konsep pemgembangan Metropolitan Cirebon Raya sebagai metropolitan budaya dan sejarah dengan sektor unggulan industri kerajinan, prioritas terhadap peningkatan dan pertumbuhan kegiatan industri batik dan industri kerajinan rotan diperlukan sebagai bagian dari budaya Cirebonan. Selain itu, pengembangan kegiatan industri kerajinan batik dan rotan sebaiknya dilakukan secara terintegrasi, ramah lingkungan, berteknologi tinggi dan mampu membangkitkan kegiatan ekonomi wilayah.

    Pengembangan industri kerajinan perlu juga ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai bagi kegiatan industri seperti penyediaan air baku, sistem pengelolaan limbah yang baik dan aksesibilitas untuk jalur distribusi bahan baku serta pemasaran hasil produksi. Keberadaan industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar pun perlu ditunjang dengan penyediaan perumahan vertikal skala besar untuk dapat menampung jumlah penduduk metropolitan yang terus meningkat. Pengembangan perumahan vertikal skala besar tersebut juga perlu ditunjang dengan penyediaan infrastruktur permukiman yang memadai.

  • GROWTH CENTER PALABUHANRATU

     

    Sejak dahulu Palabuhanratu merupakan wilayah pesisir yang menjadi tujuan wisata bagi wisatawan lokal maupun asing. Pantainya yang indah dengan karakteristik yang unik yaitu berupa teluk yang dikelilingi perbukitan, merupakan kenyamanan yang berbeda dibandingkan wisata pantai di daerah lainnya. Hamparan pantainya terbentang luas dari mulai Pantai Wisata Loji (Simpenan), Pantai Palabuhanratu, Citepus, Cikakak, Cimaja, Karangpapak sampai dengan Pantai Karanghawu (Cisolok). Keberadaan pantai ini memiliki legenda tersendiri yaitu Legenda Ratu Laut Kidul. Legenda ini dilestarikan secara turun temurun dan diperingati pada hari perayaan nelayan.

    Tahun 1998 Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1998 menetapkan adanya Pemindahan Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Sukabumi Dari Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Sukabumi Ke Kota Palabuhan Ratu Di Wilayah Kecamatan Palabuhanratu. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut, Kota Palabuhanratu mempunyai batas-batas sebagai berikut:

    1. sebelah utara berbatasan dengan Desa Cibodas dan Desa Buniwangi, Kecamatan Palabuhanratu;
    2. sebelah timur berbatasan dengan Desa Cikadu, Desa Tonjong dan Desa Cibuntu, Kecamatan Palabuhanratu serta Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong;
    3. sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kertajaya dan Desa Cihaur, Kecamatan Palabuhanratu;
    4. sebelah barat berbatasan dengan Teluk Palabuhanratu, Samudera Hindia.

    Dengan adanya pemindahan ibukota kabupaten dari Kota Sukabumi ke Kota Palabuhanratu di Kecamatan Palabuhanratu tersebut menjadikan kota ini menjadi pusat pertumbuhan yang dapat mendorong pertumbuhan pembangunan wilayah bagian selatan. Kota Palabuhanratu yang dimaksud terdiri dari Desa Citepus, Citarik, Cidadap dan Loji. Penetapan ini juga membawa pengaruh terhadap perkembangan Kota Palabuhanratu yang dapat dilihat dari perkembangan kependudukan, pembangunan fasilitas umum, dan kondisi perekonomian yang terus meningkat.

    Tahun 2010, Palabuhanratu ditetapkan sebagai Kawasan minapolitan pertama di Indonesia oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Hal ini menambah warna aktivitas perekonomian di Palabuhanratu khususnya kawasan industri perikanan tangkap dengan berbagai sarana dan fasilitas pendukungnya, seperti pabrik es, gedung pengolahan dan pengalengan ikan, serta penambahan kolam dermaga.

    Tim West Java Province Metropolitan Development Management mengklasifikasikan pembangunan Growth Center Pangandaran ini kedalam tiga skenario. Skenario I disusun berdasarkan kondisi eksisting growth center di lapangan. Sedangkan skenario II disusun berdasarkan doumen perundangan yang berlaku. Adapun skenario III disusun berdasarkan gagasan dari hasil penelitian, interpretasi dari perluasan teori dan gabungan, atau gabungan pengembangan teori.

    Skenario I; Berdasarkan Data, Analisis, dan Kajian Literatur

    Berdasarkan analisis Tim WJP MDM, secara administratif, Wilayah Growth Centre Palabuhanratu pada tahun 2010 mencakup 4 (empat) kecamatan di Kabupaten Sukabumi, yaitu: Kecamatan Palabuhanratu; Kecamatan Cisolok; Kecamatan Cikakak dan Kecamatan Simpenan, dengan luasan total sebesar 58.781 Ha.

    Distribusi Penduduk di Growth Center Palabuhanratu 2010

    No Kecamatan Luas (Ha) Penduduk 2010 LPP
    2000-2010
    1. Palabuhanratu 10.460 96.675 1,75
    2. Cisolok 17.807 62.076 1,1
    3. Simpenan 17.360 48.281 0,5
    4. Cikakak 13.154 37.400 1,3
      Total 58.781 244.432  

    Sumber: Sensus Penduduk 2010, Kecamatan Dalam Angka 2010

    Wilayah growth center palabuhan ratu merupakan wilayah yang potensial. Beberapa potensi wilayah ini antara lain potensi perikanan tangkap laut serta potensi pariwisata.

    1. Potensi Perikanan Tangkap Laut

    Jenis ikan tuna merupakan salah satu jenis ikan laut yang paling diminati sebagai komoditas ekpor, selain itu juga memiliki nilai jual yang tinggi. Akan tetapi penangkapan ikan tuna membutuhkan fasilitas kapal nelayan dengan ukuran besar dan modern, oleh karena itu pengembangan sektor perikanan laut tangkap di Palabuhanratu juga harus seiring dengan pengembangan fasilitas penangkapan ikan (kapal nelayan).

    Nilai uang produksi ikan di PPN Palabuhanratu tidak dapat dianggap kecil, sejak didirikannya PPN Palabuhanratu pada tahun 2003, nilai produksi ikan terus meningkat signifikan hingga mencapai nilai total 110 milyah rupiah pada tahun 2009. Nilai ini sedikit banyak dapat menunjukkan betapa besarnya potensi sektor perikanan di Growth Center Palabuhanratu, yang juga dapat menjadi sektor andalan untuk pusat pertumbuhan ini.

    1. Potensi Sektor Pariwisata

    Wilayah Palabuhanratu juga telah sejak lama berkembang sebagai kawasan destinasi pariwisata. Beberapa objek wisata yang diandalkan, berkaitan dengan potensi alam pesisir pantai. Daya tarik objek wisata pantai Palabuhanratu juga bahkan tidak sedikit telah menarik wisatawan mancanegara untuk datang setiap tahunnya.

    Skenario II; Berdasarkan Peraturan Perundangan, Kebijakan dan Rencana Pembangunan

    Berdasarkan Rencana Struktur Ruang pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 – 2029, Palabuhan Ratu ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional Provinsi (PKNp) dengan memperhatikan potensi perikanan yang akan dikembangkan, dengan dukungan pembangunan pusat bisnis kelautan skala pelayanan nasional dan internasional. Selain itu Palabuhanratu juga ditetapkan sebagai salah satu Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang berfungsi untuk menjadi pusat koleksi dan distribusi skala nasional. Sebagai PKW, beberapa arahan infrastruktur minimum yang disediakan berupa:

    1. peningkatan kapasitas Pelabuhan Perikanan Samudera;
    2. terminal tipe B;
    3. pembangunan pasar induk regional;
    4. peningkatan sistem pengelolaan air limbah.

    Dalam rencana pola ruang Provinsi Jawa Barat, sebagian wilayah Growth Center Palabuhanratu termasuk dalam kategori kawasan lindung berupa cagar alam dan rawan bencana alam geologi. Terkait dengan fungsi lindung berupa cagar alam ini (Cagar Alam Sukawayana, Tangkuban Parahu), wilayah di Growth Center Palabuhanratu memiliki kekhasan jenis tumbuhan, satwa atau ekosistem yang harus dilindungi dan dilestarikan. Wilayah Growth Center Palabuhanratu juga memiliki potensi rawan bencana karena terletak di zona sesar aktif yaitu sekitar sesar Cimandiri (Palabuhanratu-Padalarang). Selain itu, dalam kawasan budidaya, Growth Center Palabuhanratu ditetapkan sebagai kawasan ekowisata dan kawasan wisata bahari di wilayah pesisir selatan, serta kawasan pertahanan dan kemanaan TNI Angkatan Laut.

    Selain dalam RTRW Provinsi Jawa Barat, pengembangan Wilayah Palabuhan Ratu juga disebutkan dalam berbagai dokumen perundangan lain seperti dalam:

    1. Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
    2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005 – 2025
    3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 – 2013
    4. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No 28 Tahun 2010 Tentang Pengembangan Wilayah Jawa Barat Bagian Selatan Tahun 2010 – 2029
    5. Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005
    6. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi 2010 – 2030 (Raperda)
    7. Rencana Penataan Kawasan Pesisir dan Kota Palabuhanratu 2003

    Skenario III; Berdasarkan Hasil Penelitian, Interpretasi dari Perluasan Teori, atau Gabungan Pengembangan Teori

    Selain dalam dokumen perundangan , pengembangan Growth Center Plabuhanratu juga dikaji dalam berbagai hasil penelitian, interpretasi perluasan teori atau gabungan teori. Salah satunya yaitu gagasan untuk mengebangkan Wilayah Palabuhanratu sebagai Kawasan Minapolitan. Minapolitan yaitu konsepsi  pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan. Kawasan Minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri  dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Berdasarkan hal tersebut, minapolitan tidak hanya terkait sebagai industri yang bersifat di hulu tetapi juga mencakup hilirnya. Kawasan minapolitan dikembangkan secara terintegrasi oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk pertumbuhan ekonomi wilayah, penciptaan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat pada suatu kawasan

    Disamping akan dikembangkan sebagai kawasan minapolitan, terdapat pula gagasan untuk mengembangkan wilayah palabuhanratu yang semula merupakan Pelabuhan Perikanan Nasional (PPN) menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS).